Langsung ke konten utama

Terserah

Aroma hujan masih tersisa di ujung hidung, menyisakan malam syahdu dengan rintik-tintik gerimis. Seperti biasa, aku harus begadang semalaman menghadapi layar laptop, menyelesaikan tugas menulis dan desain yang semakin hari semakin menumpuk.

Sementara kakak kelas di sana sudah mulai gencar mengirimkan pertanyaan-pertanyaan ke ponselku "Fer, pamflet udah? "Fer, Jangan lupa pamflet ya".
Sebelum membukanya saja aku sudah tau apa isi pesan itu, membuatku membiarkan chatnya tak terbuka, berpura-pura tidak pegang hp selama beberapa jam.

Rasanya mual sekali melihat kanvas kosong yang hanya dihiasi dengan beberapa kalimat, bahan mendesain pamflet malam ini. Inspirasi kosong, tak juga muncul, sedangkan jarum jam terus bergerak ke kanan.

Mood burukku bertambah parah ketika seseorang menghampiri, mengatakan sesuatu yang tak mengenakkan hati. Aku yang sedang menyuap mie instan saat itu langsung kehilangan nafsu makan. Kutinggalkan mie itu hingga mendingin didekap udara malam.

Tapi akhirnya aku iyakan saja meskipun hati ini panas sekali. Ah andai dia tau kekhawatiranku.
Mataku masih fokus menatap layar laptop, sedangkan dia masih terus bicara padaku, aku timpali sambil sesekali tersenyum, menjawab obrolannya tanpa memandangnya.

Duh betapa pencemburunya aku.

Setelah urusannya selesai denganku, dia mulai pergi. Langsung kuraih ponselku, mengirimkan pesan ke seseorang di sebrang sana. Aku bertanya sinis sambil ngambek. Sepertinya dia mulai menangkap akar permasalahannya.

Ah aku selalu gitu, merujuk ngambek, menyisakan dia yang mulai bingung harus bagaimana menghadapi balasan "terserah" dan "aku gapapa".

Kalian harus tahu, kata terserah dan gapapa itu justru sangat bahaya, maknanya selalu kontra dengan teksnya. hehe


Komentar

Postingan populer dari blog ini

As-Sam'iyyat

As-Sam’iyyaat Temen-temen pernah denger istilah As-sam’iyyat? Mungkin sebagian dari kita udah nggak asing lagi dengan istilah ini, As-Sam’iyyat merupakan perkara yang tidak dapat digambarkan dengan pancaindera manusia dan hanya dapat diketahui melalui al-quran dan al-hadis. Adapun perkara-perkara yang termasuk as-sam’iyyat adalah alam kubur, hari kiamat, malaikat, jembatan sirath, padang mahsyar, surga dan neraka. Bahkan, jin, dan setan juga merupakan perkara as-sam’iyyat karena kita tidak dapat melihatnya dengan kasat mata kecuali dengan kekuasaan Allah. Kita sebagai umat muslim wajib untuk meyakini akan adanya as-sam’iyyat walaupun hal tersebut hanya dapat kita dengar dari al-quran dan hadits. Dalil kewajiban beriman dengan perkara sam’iyat seperti yang Allah firmankan di dalam Al-quran : الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebah

Ibnu Qutaibah dan Ilmu Musykil al-Qur’an: Dialektika antara Akal dan Teks

Pendahuluan Al-Qur’an telah diturunkan oleh Allah Swt dengan jelas dan terperinci, kandungannya benar dan jauh dari kesalahan. Apabila manusia yang membuat a l-Qur’an, tentu saja ada berbagai pertentangan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al -Nisa ayat 82: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “ Maka apakah mereka tidak memperhatikan al- Qur ’ an? Kalau kiranya al- Qur ’ an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat i pertentangan yang banyak di dalamnya. ” (QS. Al-Nisa’: 82) Oleh karena itu, para ulama menggunakan kata “musykil” pada ilmu al-Qur’an ( musykil al-qur’an ), bukan mukhtalaf sebagaimana yang digunakan dalam pembahasan ilmu hadis ( mukhtalaf al-hadits ). Hal ini dikarenakan a l-Qur’an adalah haq , tidak ada pertentangan di dalamnya, berbeda dengan hadis yang masih bisa diperdebatkan. Meskipun demikian, tidak semua ayat a l-Qur’an dapat dipahami secara lang

Sunnah-Sunnah Sholat Menurut para Imam Madzhab

Shalat merupakan  kewajiban seorang muslim kepada Tuhannya, Allah. Ibadah inilah yang paling pertama akan dihisab di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: إِنَّ أَوَّلَ مَايُحَاسَبُ بِهِ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاة “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah sholatnya.” Nah, sudahkah kita memahami betul perkara-perkara sholat? Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu yang pernah saya pelajari ketika belajar di TMI Pesantren Modern Daarul Uluum Lido dalam kitab “Al-Fiqhu ‘alaa Madzaahibil Arba’ah” (Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanifah dan Imam Hanbali) karya Abdurrahman Al-Jaziri. Terkadang kita menyepelekan dan mengabaikan perkara-perkara sunnah dalam sholat, memang kita tidak berdosa jika meninggalkan perkara sunnah, namun hal ini tentu akan merugikan kita. Menurut Imam Syafi’i dan Hanbali Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan sunnah-sunnah shalat, Allah SWT tidak membe